← Kembali ke Journal

Kopi Indonesia dan Sukhoi Su-35: Fakta Skema Imbal Dagang 2017

Benarkah Indonesia pernah membayar pesawat Sukhoi dengan kopi? Ini penjelasan skema imbal beli Indonesia-Rusia, angka yang diberitakan, dan posisi kopi dalam daftar produk ekspor.

Kopi Indonesia dalam cerita skema imbal dagang Sukhoi Su-35

Kalau membicarakan kopi Indonesia, biasanya kita teringat petani, kebun, proses pascapanen, roasting, atau secangkir kopi. Namun pada 2017, kopi juga disebut sebagai salah satu produk Indonesia dalam pembahasan skema imbal dagang terkait rencana pengadaan pesawat tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia.

Angka yang diberitakan cukup besar: rencana pengadaan 11 pesawat Sukhoi Su-35 dengan nilai sekitar US$1,14 miliar. Salah satu produk yang masuk dalam daftar untuk skema imbal beli adalah kopi. Dari sinilah muncul judul populer bahwa Indonesia “membeli Sukhoi dengan kopi”.

Apakah Sukhoi dibayar langsung dengan kopi?

Tidak secara langsung. Skema yang dibahas adalah countertrade atau imbal dagang, lebih spesifik disebut imbal beli. Dalam skema tersebut, transaksi pengadaan pesawat dikaitkan dengan kewajiban pembelian produk ekspor Indonesia oleh pihak Rusia.

Dengan kata lain, tidak ada pertukaran langsung antara karung kopi dan pesawat. Kopi merupakan salah satu komoditas yang dapat masuk ke dalam pemenuhan nilai pembelian produk Indonesia. Karena itu, kalimat yang lebih akurat adalah: kopi Indonesia masuk dalam daftar produk untuk skema imbal beli yang dikaitkan dengan rencana pengadaan Sukhoi Su-35.

Bagaimana cara kerja skema imbal beli?

Secara sederhana, Indonesia berencana membeli alutsista dari Rusia, sementara Rusia berkewajiban membeli produk ekspor Indonesia dengan nilai tertentu. Produk-produk tersebut kemudian dipasarkan melalui perdagangan, bukan dikirim sebagai alat pembayaran fisik untuk menggantikan uang.

Nilai imbal beli yang diberitakan mencapai 50% dari nilai kontrak, atau sekitar US$570 juta. Daftar produk yang dibahas tidak hanya mencakup kopi, tetapi juga berbagai komoditas dan produk manufaktur Indonesia.

  • Kopi dan produk turunannya
  • Karet, minyak sawit mentah (CPO), kakao, dan teh
  • Tekstil, alas kaki, furnitur, dan rempah-rempah
  • Ikan olahan serta produk industri lainnya

Mengapa kopi Indonesia ikut diperhitungkan?

Kopi bukan hanya minuman yang dijual di kedai. Dalam perdagangan internasional, kopi adalah komoditas ekspor yang menghubungkan produsen, pengolah, eksportir, dan pasar luar negeri. Produk kopi Indonesia memiliki nilai dagang dan telah menjadi bagian dari arus ekspor nasional.

Dalam data pemerintah yang dikutip pada pembahasan imbal beli tersebut, ekspor biji kopi Indonesia untuk kategori produk yang dicantumkan pada Januari hingga Juni 2017 disebut bernilai sekitar US$33,4 juta. Angka ini memberi konteks mengapa kopi dipertimbangkan sebagai salah satu produk yang dapat ditawarkan, tetapi tidak berarti seluruh nilai imbal beli dipenuhi oleh kopi.

Angka utama dalam rencana pengadaan Sukhoi

Infografik interaktif · Imbal dagang

Kopi × Sukhoi Su-35

Indonesia–Rusia · 2017
FASE 01 / 03Rencana pengadaan

Indonesia merencanakan pengadaan pesawat dari Rusia.

PIHAK PEMBELIIndonesiaMerencanakan pengadaan alutsista dari Rusia.
PESAWATSukhoi Su-35Sebanyak 11 pesawat dalam rencana pengadaan.
US$1,14 miliarNilai pengadaan yang diberitakan.

Alur ini merangkum rencana/skema yang diberitakan; bukan pertukaran kopi secara langsung dengan pesawat.

Hubungan perdagangan kopi Indonesia-Rusia bukan cerita baru

Pembahasan 2017 juga mengingatkan pada laporan mengenai perdagangan Indonesia-Rusia pada 1997. Dalam laporan tentang skema countertrade alutsista saat itu, produk Indonesia yang disebut antara lain teh, kopi, plywood, minyak sawit, karet, tekstil, mainan, kerajinan, dan semen.

Dalam kedua cerita tersebut, kopi hadir sebagai bagian dari perdagangan yang lebih luas. Komoditas dari sektor pertanian dapat ikut masuk ke pembicaraan ekonomi antarnegara, meski mekanisme dan rincian setiap kesepakatan perlu dibaca sesuai sumber dan periode masing-masing.

Dari kebun kopi ke perdagangan internasional

Rantai kopi sering digambarkan bergerak dari petani, lalu roaster, coffee shop, dan akhirnya sampai ke cangkir. Dalam perdagangan ekspor, jalurnya lebih panjang: ada pengolahan, eksportir, logistik, pelabuhan, pembeli, dan pasar di negara tujuan.

Itulah bagian yang membuat cerita kopi Indonesia dan Sukhoi Su-35 terasa tidak biasa. Sebuah komoditas yang tumbuh di kebun dapat menjadi salah satu produk dalam pembahasan perdagangan internasional yang berkaitan dengan pengadaan pertahanan.

Kopi tidak secara langsung membeli pesawat. Namun, pada 2017, kopi Indonesia disebut sebagai salah satu produk ekspor dalam skema imbal beli yang dikaitkan dengan rencana pengadaan Sukhoi Su-35.

Kesimpulan: kopi masuk skema, bukan barter langsung

Jadi, apakah kopi Indonesia pernah “ditukar” dengan Sukhoi? Jawaban yang paling tepat adalah: kopi masuk dalam daftar produk Indonesia yang dibahas untuk skema imbal dagang terkait rencana pengadaan Sukhoi Su-35 pada 2017. Ini berbeda dari gambaran bahwa kopi secara fisik ditukar langsung dengan pesawat.

Cerita ini menunjukkan bahwa industri kopi jauh lebih luas daripada aktivitas minum kopi. Di balik setiap komoditas ada petani, pengolah, eksportir, perdagangan, dan kebijakan ekonomi yang dapat menghubungkan Indonesia dengan pasar dunia.

Sumber

  • Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, informasi pengadaan Sukhoi Su-35 dan skema imbal beli, 2017.
  • Inter Press Service, laporan mengenai skema countertrade Indonesia-Rusia, 1997.

Angka dan konteks dalam artikel ini merujuk pada informasi yang diberitakan untuk rencana atau kesepakatan pada periode terkait. Rencana pengadaan dan skema imbal dagang tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa kopi diserahkan langsung sebagai pembayaran pesawat.