← Back to Journal

Ekspor 10 Ton Kopi Jawa Barat ke Inggris Bernilai Rp2,64 Miliar

Ekspor green bean dari Java Halu Coffee ke Inggris menjadi bukti bahwa kopi Jawa Barat mampu bersaing di pasar internasional dengan kualitas, konsistensi, dan strategi yang tepat.

Ekspor 10 Ton Kopi Jawa Barat ke Inggris

Kementerian Perdagangan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat melepas ekspor 10 ton biji kopi mentah atau green bean produksi Java Halu Coffee senilai USD155 ribu atau sekitar Rp2,64 miliar ke Inggris. Pelepasan itu berlangsung di Kabupaten Bandung Barat pada 18 Agustus 2026, dan menjadi momentum penting bagi kopi asal Jawa Barat untuk menembus pasar global yang sangat selektif.

Dalam konteks pasar internasional, angka itu bukan sekadar transaksi. Itu adalah sinyal bahwa kualitas kopi Indonesia, khususnya asal Jawa Barat, tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dapat bersaing di pasar ekspor yang menuntut konsistensi, traceability, dan standar mutu yang tinggi.

Potensi pasar yang mulai terbuka

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menilai keberhasilan Java Halu Coffee menunjukkan bahwa UMKM yang didukung pendampingan yang tepat bisa memperluas pasar hingga ke mancanegara. Menurutnya, kopi bukan sekadar komoditas, tetapi sebuah rantai nilai yang mencakup petani, pengolah, eksportir, roastery, hingga pasar akhir.

Java Halu Coffee sendiri telah mengembangkan pasar ekspor sejak 2019. Saat ini, produknya telah masuk ke berbagai negara seperti Timur Tengah, Jepang, Australia, Korea Selatan, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. Dalam skala yang lebih luas, kisah ini memperlihatkan bahwa export readiness tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas, membangun reputasi, dan menjaga kontinuitas pengiriman.

Dukungan institusi memperkuat ekspor

Dukungan pemerintah menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Kemendag telah memfasilitasi Java Halu Coffee melalui promosi, akses pasar, dan partisipasi di berbagai event internasional seperti World of Coffee di Athena, Yunani, serta International Coffee & Chocolate Exhibition di Riyadh, Arab Saudi. Perusahaan itu juga rutin mengikuti Trade Expo Indonesia.

Kemudian, Pemerintah Provinsi Jawa Barat turut mendorong penguatan produk unggulan daerah agar lebih dikenal di pasar internasional. Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan menyampaikan ekspor tersebut menunjukkan kualitas kopi Jawa Barat mampu bersaing di kancah global. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mendorong produk lokal agar makin dikenal di pasar internasional.

“Kopi bukan hanya tentang rasa. Ia juga tentang kepercayaan pasar, konsistensi, dan kemampuan membangun cerita yang kuat di balik setiap lot.”

Ke depan: dari biji mentah ke nilai tambah

Dalam konteks yang lebih luas, ekspor green bean ke Inggris ini juga membuka pertanyaan penting: apakah Indonesia ingin tetap menjadi pengirim bahan baku, atau siap bergerak ke produk yang memiliki nilai tambah lebih besar? Kemendag mendorong agar ekspor kopi tidak hanya mengandalkan biji mentah, tetapi juga dilanjutkan dengan pengembangan produk olahan, penguatan merek, dan penjenamaan yang lebih tajam.

Ini penting, karena kopi Indonesia memiliki keberagaman asal, proses, dan profil rasa yang sangat luas. Gayo, Java, Toraja, Flores, hingga Papua masing-masing menyimpan karakter unik. Jika diferensiasi produk dan branding diperkuat, maka nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berasal dari volume ekspor, tetapi juga dari identitas yang bisa dibawa ke pasar global.

Selain itu, kebutuhan pasar global terhadap traceability dan keberlanjutan juga meningkat. Untuk dapat bertahan, kopi Indonesia perlu terhubung secara efisien dari petani sampai pembeli internasional. Ketertelusuran, mutu, dan rantai pasok yang kuat tidak lagi menjadi pilihan tambahan, tetapi kebutuhan dasar agar kopi asal Indonesia tetap relevan di pasar yang semakin kompetitif.

Pada akhirnya, kisah ekspor 10 ton kopi Jawa Barat ke Inggris bukan hanya tentang satu transaksi. Ia adalah bukti bahwa potensi kopi negeri ini sangat besar, selama ada komitmen untuk menjaga mutu, memperkuat kolaborasi, dan memberi ruang bagi nilai tambah yang lebih besar—baik bagi petani, pelaku usaha, maupun masa depan industri kopi Indonesia.